Jatuh CINTA, untuk apa?
Friday, January 25th, 2008Suatu hari kamu mungkin bertemu cowok atau
cewek yang begitu menarik dan membuatmu jatuh
cinta.
Dia mungkin mencintaimu. Mungkin juga tidak. Kalau tidak,
maka bersyukurlah karena sebetulnya bertepuk
sebelah
tangan tidak seburuk kelihatannya, seringkali justru
itu menyelamatkanmu dari harl-hal buruk yang
mungkin
saja terjadi.
Ingat, sebagai manusia, seringkali kita
terkecoh dengan penilaian kita yang memang hanya
menilai berdasarkan tampak luar saja. Serahkan
pada
Allah, kalau memang Dia tidak mengizinkan
barangkali
karena memang sosok tersebut tidak baik untuk
kamu.
Oke?
Kalau dia mencintaimu juga, gimana?
Well, kamu bisa mengajukan pertanyaan ini pada
dirimu sendiri, "Jatuh cinta, dicintai, untuk apa?"
Jika hanya untuk pacaran, sebandingkah
perasaan bahagia yang sesaat dengan resiko yang
mungkin terjadi? Dunia super duper indah yang
digembargemborkan banyak media kita, dan
melenakan,
sebetulnya hanya dunia palsu dimana dua orang
berusaha
tampil sebagus mungkin di hadapan pacarnya!
Ingat baik-baik, doi mungkin tidak sebaik
kelihatannya! Hanya Allah yang Maha Melihat, dan
Maha
tahu!
Lagian, ngapain juga pacaran?
Apa sebagai sandaran agar semangat belajar?
Begitu tidak ada artinyakah nilai kuliah, yang
dibiayai susah payah oleh ortu, sehingga pantas
dipertaruhkan di pundak pacar kita?
Pacaran untuk saling kenal? Terus kalo udah
kenal mau apa? Wayyo!
Pacaran untuk penghematan, biar kemana-mana
ada yang ngantarin? Wah, fungsi pacar yang begini
mah,
bisa diganti sama tukang ojek! Hehe.
Anyway, Rule number four : Keep asking your
heart, pacaran untuk tujuan apa? Betulkah seperlu
itu
dan berbagai proyek hidup kita akan hancur kalau
tidak
melakukannya?
Kecuali kamu sudah dalam usia siap menikah,
dan merencanakan untuk menikah. Tapi kalau
memang
begitu, ngapain juga pacaran? Mendingan merit! Ya
gak
seh?
Not ready yet?
Naksir berat, pengen nikah tapi belum kerja? Atau
belum kelar kuliah? Atau belum siap?
Sebetulnya untuk nikah, barangkali gak ada orang
yang
benar-benar siap ketika hari H (Heboh) itu tiba.
Adanya pekerjaan, kuliah selesai juga tidak
menjamin
kebahagiaan sebuah pernikahan. Tapi dengan niat
yang
teguh kukuh berlapis baja, insya allah semua
tantangan
pernikahan bisa kamu hadapi.
Tapi kalo memang bener-bener belum mantap
gimana dong?
Ya, kasiaaaaaaaan deh kalo gitu, hehe.
If u r not ready yet, berarti gak ada pilihan. Hidupin
puasa senin kemis, sibukin diri sama berbagai
kegiatan. Bohong besar kalimat yang mengatakan
muda
foya-foya tua kaya raya mati masuk surga. Jadi isi
masa muda dan pranikahmu dengan mencetak
karya
sebanyak-banyaknya, gali potensi. Bikin bangga
ortu,
dan calon istri serta calon mertua di masa depan
(bukan yang ditek-in dari sekarang lho!), sekaligus
jadi kebanggaan umat Muhammad!
Atau pendeknya, Rule number five: Isi hidup
pranikah
dengan karya! Jadi jika takdir ternyata mengatakan
kita gak keburu nikah, karena umur pendek, at least
kita siap menghadap-Nya! (bukan nakut2in, tapi
yang
namanya mati kan satu-satunya kepastian dalam
hidup
kita, setuju ya?)
Apalagi?
Rule number six: Kenakan masker taqwa untuk virus
merah jambu. Berlaku pada semua panca indera
dan jiwa.
Hingga saat indah itu, mudah-mudahan Allah
menjagamu,
tetap suci, terhormat, dan indah. Amiin
